Sejarah Desa Tuko

CERITA RAKYAT TERJADINYA DESA TUKO, KEC. PULOKULON, KAB. GROBOGAN

 

AWAL PERJALANAN ABDI DALEM KERATON SURAKARTA HADININGRAT

Pendahuluan Kisah ini diambil dari keterangan masyarakat Desa Tuko dan sekitarnya, serta keterangan dari pihak Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat yang bernama Bapak Raden Tumenggung Parjan Puspokodipuro, selaku Juru Kunci Makam Raden Ngabehi Kusumo. Dengan maksud dan tujuan agar pembaca dapat menghormati kebudayaan dan jasa- jasa pendiri Desa Tuko, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan.

Awal terjadinya Desa Tuko, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan ini tidak lepas dari kisah/ riwayat hidup dari Raden Ngabehi Kusumo/ GPH/ Gusti Pangeran Haryo Hangabehi. Beliau adalah seorang Putra dari Amangkurat IV yang bernama GPH. Suryo Putro, pada masa Pemerintahan Keraton Kartasura, Jawa- Tengah.

Keberadaan Keraton Kartasura jika kita lihat sekarang ini tinggal bekas peninggalan yang berupa benteng, masjid dan makam- makam leluhur Keraton Kartasura. Keraton Kartasura terbelah menjadi dua, karena pada waktu itu terjadi perjanjian Giyanti, yang terjadi karena adu domba dari penjajah VOC Belanda yang memutuskan bahwa karaton dibagi menjadi dua antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta pada Tahun 1755. B. Perjalanan Raden Ngabehi Kusumo Menuju Daerah Grobogan Raden Ngabehi Kusumo berkeinginan meninggalkan Keraton Kartasura sekitar Tahun 1680- an, dalam perjalanannya ke Grobogan yang saat itu belum terbentuk sebagai Kabupaten Grobogan, beliau membuka wilayah pada beberapa desa sebagai tempat tinggalnya.

Perjalanan Raden Ngabehi Kusumo dilalui dengan berjalan kaki yang ditempuh kurang lebih sekitar 100 km lebih untuk menuju Wilayah Grobogan, dengan diikuti oleh beberapa sohabat- sohabat setianya.

Wilayah Grobogan yang dilalui yang pertama adalah menuju Kecamatan Kradenan, beliau membuat Pesanggrahan/ tempat tinggal di daerah “TEGAL WARUNG” yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kradenan, saat itu daerah Tegal Warung masih berupa hutan yang lebat. Beliau kemudian babat hutan menjadi ladang / tegal, membuat pos kecil seperti warung yang disebut dengan nama “WARUNGAN“. Karena tempat Pesanggrahan di Warungan tersebut dirasakan oleh Raden Ngabehi Kusumo dan Sohabatnya kurang nyaman, kemudian beliau pindah ke Pesanggrahan di daerah “ KRADENAN “ Asal kata Kradenan adalah dari kata “ RADEN “.

Di Kradenan ini banyak suatu permasalahan yang terjadi, diantaranya Suatu hari Raden Ngabehi Kusumo sedang terjadi perselisihan perebutan tanah kekuasaan dengan sohabat yang lain, singkat kata tempat tersebut diberi nama “ WATES “. Yang artinya adalah batas tanah. Sekarang dipakai sebagai Dusun Wates. Dalam suatu riwayatnya juga, Raden Ngabehi Kusumo telah memberikan nama daerah dengan nama “ BELAN “ yang artinya adalah Pembelaan Tanah Wilayah. Di KRADENAN inilah Raden Ngabehi Kusumo mulai menyusun Pemerintahan dan kegiatan Syiar Agama Islam. Beliau kemudian membentuk bekel dan ulu- ulu sebagai pengurus Pemerintahan. Sahabat Raden Ngabehi Kusumo yang bernama Raden Langen Wijaya Kusumo telah meninggal dunia di wilayah Kradenan dan dimakamkan di daerah sekitar, maka makam tersebut diberi nama’ LANGEN HARJO” dan oleh pemerintah membangun waduk, kemudian memberi nama waduk dengan sebutan waduk“ NGLANGON “

Pergolakan Pangeran Puger dan Amangkurat III Keraton Kartasura Terjadinya pergolakan Pangeran Puger dan Amangkurat III terjadi pada sekitar tahun 1703- 1708 di wilayah Keraton Kartasura. Permasalahan Politik yang dihadapi oleh Pangeran Puger dan Amangkurat III adalah adanya adu domba dari siasat tentara VOC Belanda yang bernama “ Jendral Harting “. Hingga akhirnya juga Pangeran Puger dipenjara oleh tentara VOC Belanda. Karena situasi politik tersebut juga melibatkan nama Raden Ngabehi Kusumo, akhirnya Raden Ngabehi Kusumo menjadi kejaran dari Tentara VOC Belanda.

ALUR PENEMUAN DESA TUKO

Penemuan Desa Tuko Raden Ngabehi Kusumo mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, bahwa beliau sedang menjadi kejaran dari tentara VOC Belanda, akhirnya beliau pindah tempat menuju daerah Logender. Istilah Logender berasal dari kata “LO dan GENDER” yang artinya adalah Pohon Lo dan Gender ( Dalam istilah Jawa, Gender berarti benda GONG ). Singkat kata terjadinya nama Logender berawal dari penemuan suatu pohon LO yang berdiri tinggi dengan menempel suatu benda GONG GAIB.

Perjalanan Raden Ngabehi Kusumo berikutnya adalah menuju ke arah barat, beliau membuka lahan dan pesanggrahan sebagai tempat tinggal dan bercocok tanam, kemudian daerah tersebut dinamakan “SAMBEN “ sekarang menjadi nama Dusun Sambeng. Makna kata Samben, berasal dari kata SAMBIL melakukan penyamaran sebagai Petani. Salah satu peninggalan yang terdapat di Dusun Sambeng ini adalah adanya Sumur tua, yang tidak pernah habis sumber mata airnya. Area sumur ini dapat kita temukan di tengah-tengah sawah di Dusun Sambeng, sebagai pengairan tanaman Pertanian.

Kemudian Raden Ngabehi Kusumo melakukan perjalanan menuju ke arah barat dari Dusun Sambeng sekitar 500 meter, di sana ditemukan sebuah Danau Kecil yang banyak ikannya dan dihinggapi banayak Burung Bangau. Maka tempat itu diberi nama “BANGAU”. Mengenai keberadaan Danau Kecil pada zaman sekarang tidak bisa kita temukan, karena sudah hilang melebur dengan tanah.

Ketika di BANGAU, tentara VOC Belanda hampir menemukan keberadaan Raden Ngabehi Kusumo, karena dirasakan situasi tidak aman, akhirnya Raden Ngabehi Kusumo memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dan membuat Pesanggrahan di sekitar 300 meter arah selatan dari Bangau, dan tempat pesanggrahan ini diberi nama “TUKO”.

Asal kata TUKO adalah dari kata TUMEKO yang artinya adalah Sampai pada tempat yang aman. Di Pesanggrahan TUKO ini beliau merasakan aman dari kejaran tentara VOC Belanda. Di Pesanggrahan TUKO inilah, Raden Ngabehi Kusumo bersama sahabat- sahabatnya membuka kehidupan bermasyarakat dan melakukan aktifitas Syiar Agama Islam. Sebagai bentuk penghormatan kepada Raden Ngabehi Kusumo yang dilakukan dari dahulu hingga sekarang adalah dengan melakukan kegiatan Nyadran/ Sedekah Bumi, sebuah acara selamatan yang selalu dilakukan setiap Senin Pon bulan Dzulkaidah atau dalam istilah jawa disebut bulan Apit. Raden Ngabehi Kusumo meninggal dunia dan dimakamkan oleh Sahabat- sahabatnya di dekat Pesanggrahan tersebut.

Adapun keberadaan Makam Raden Ngabehi Kusumo ini dapat kita kunjungi tepatnya di Dusun Krajan Lor, Desa TUKO, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan.

Demikian, sekilas Cerita Rakyat Terjadinya Desa TUKO, Kec. Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Atas jasa- jasa dari Raden Ngabehi Kusumo, karena telah membuka Desa TUKO ini maka oleh masyarakat sekitar Desa Tuko ini sering berkunjung untuk berziarah dengan maksud untuk mendoakan arwah Raden Ngabehi Kusumo agar beliau ditempatkan di sisi Allah SWT Dengan melakukan Ziarah ke makam Raden Ngabehi Kusumo atau orang yang Soleh ini, dipercaya akan mendapatkan Karomah / Barokah yang bermanfaat untuk hidup kita. Perlu diperhatikan, keberadaan Raden Ngabehi Kusumo ini telah diakui Silsilahnya sebagai kerabat Keraton Kartasura dan Keraton Surakarta, karena saat ini dari pihak Keraton Surakarta Hadiningrat telah melakukan berbagai upaya pembuktian yang sesuai dengan buku besar silsilah keturunan Raden Ngabehi Kusumo/ Gusti Pangeran Haryo Hangabehi.

LIGALITAS HUKUM DESA TUKO

Demikian sedikit cerita rakyat Terjadinya Desa Tuko, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan yang perlu dilestarikan keberadaannya. Untuk melakukan perlindungan secara hukum, maka pedoman yang dipakai oleh pihak Keraton Surakarta adalah sebagai berikut:

  1. Surat Kekancingan Angka: W. 13. 12. K. 02. 0044 tentang Surat Penunjukan Dawuh yang ditanda tangani pada tanggal 15 Juni 2012 oleh pihak Keraton Surakarta
  2. Surat Keterangan mengenai Pengurus Makam Raden Ngabehi Kusumo, No. 13. 13/ SK. 01- XI/ 04. 01/ 002 yang ditanda tangani tanggal 4 Nopember 2013 oleh pihak Keraton Surakarta
  3. Surat Tugas No. 13. 12/ V. 01- XII/ 23. 01/ 056 tentang Pengukuran Area Makam Raden Ngabehi Kusumo di Desa Tuko, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan. Yang ditanda tangani pada tanggal 23 Desember 2013 oleh pihak Keraton Surakarta
  4. Surat Permohonan Pelestarian Makam Raden Ngabehi Kusumo, No. 13. 14/ U. 01- IV/ 29. 01/ 026. Yang ditanda tangani tanggal 29 April 2014 oleh pihak Keraton Surakarta
  5. Surat Pemberitahuan tentang Perlindungan secara Aktif terhadap Juru Kunci Makam Raden Ngabehi Kusumo, Surat No. 13. 14/ U. 01- X/ 14. 04/ 058 yang ditanda tangani tanggal 14 Oktober 2014 oleh pihak Keraton Surakarta
  6. Surat Kekancingan Angka : W. 13. 15. 03. 083. 0169 tentang Juru kunci yang ditanda tangani tanggal 10 Mei 2015 oleh pihak Keraton Surakarta
  7. Surat Kekancingan Paguyuban : No. 13. 15/ SK. 01. 1X/ 14. 01/ 013 yang ditanda tangani tanggal 14 September 2015 oleh pihak Keraton Surakarta.
  8. Akta Notaris No. 39 Tanggal 17 Nopember 2015 tentang Pokok- pokok Paguyuban Pengurus Makam Raden Ngabehi Kusumo
  9. Menkumham No. AHU- 0017337. AH. 01. 07 Tahun 2015 tentang Pengesahan Paguyuban Pengurus Makam Raden Hangabehi Kusumo yang ditanda tangani tanggal 18 Nopember 2015 oleh pihak Kemenkumham.

Naas ! Saat Mencuci Pakaian, Warga Tuko Grobogan Tewas Tenggelam di Sungai

Warga Dusun Sugihan, Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon  dikejutkan dengan peristiwa orang  tenggelam di sungai, Jumat (20/4/2018). Korban tenggelam diketahui bernama Saliyem (57), warga  setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, sekitar pukul 08.00 WIB, korban  diketahui masih mencuci pakaian diatas jembatan kecil dipinggiran sungai. Saat  korban  mencuci, di dekat lokasi itu juga ada sejumlah warga  yang sedang beraktivitas mengambil pasir  di bantaran sungai.

Peristiwa tenggelamnya korban  diketahui berawal dari kecurigaan Samin (70), salah satu warga  yang sedang mencari pasir.  Yakni, saat ia melihat  tumpukan pakaian diatas jembatan tetapi tidak ada  orang didekatnya. Padahal, sebelumnya ada  orang  yang sedang mencuci pakaian disitu.Merasa khawatir, Samin lalu mengabarkan pada warga  lainnya yang sedang mencari pasir  dipinggiran sungai. Kemudian, beberapa warga  berusaha menyisir pinggiran  sungai di sekitar lokasi korban mencuci pakaian.

Sekitar 30 menit  kemudian, warga  akhirnya  berhasil menemukan tubuh  korban  didasar sungai. Selanjutnya, tubuh  korban  dievakuasi ke daratan. Saat  diperiksa, korban  diketahui sudah dalam kondisi meninggal dunia. Selanjutnya, warga  melaporkan peristiwa itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Pulokulon  AKP Juhari saat dikonrmasi membenarkan adanya peristiwa orang  tenggelam di Desa Tuko tersebut. Korban tenggelam saat mencuci pakaian.

Menurutnya, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda kekerasan atau  bekas penganiayaan. Pemeriksaan korban  dilakukan  oleh tim Inas Polres Grobogan dan tim medis Puskesmas Pulokulon.

“Meninggalnya korban  murni karena tenggelam. Kemungkinan, saat mencuci pakaian korban mengalami serangan jantung  dan terjatuh ke dalam sungai. Jenazah korban  sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Siswi SMPN 1 Pulokulon Asal Tuko Korban Kecelakaan Bus Pariwisata

Meski jenazah korban  belum tiba, namun puluhan warga  mulai berdatangan ke rumah duka korban  kecelakaan salah satu bus rombongan wisata SMPN 1 Pulokulon, Grobogan. Selain tetangga, kerabat dan teman sekolah, ungkapan duka cita juga dilakukan  oleh jajaran Muspika  Pulokulon, pihak sekolah, Dinas Pendidikan Grobogan.

Kapolsek Panunggalan AKP Wibowo menyatakan, informasi yang diterima,  jenazah korban  kecelakaan sudah diberangkatkan dari RS Brebes selepas dhuhur  tadi. Diperkirakan, jenazah tiba di rumah duka malam ini sekitar pukul 19.00 WIB.

“Informasinya tadi, posisi jenazah sudah akan diberangkatkan ke Grobogan. Kemungkinan, sesudah Isyak nanti baru tiba disini. Perjalanan diperkirakan sekitar tujuh jam,” kata Wibowo, usai mengunjungi rumah korban kecelakaan di Desa Tuko.

Seperti  diberitakan, musibah kecelakaan menimpa rombongan wisata SMPN 1 Pulokulon, Grobogan, Senin (1/10/2018) dinihari. Salah satu bus yang mengangkut peserta wisata mengalami kecelakaan tunggal saat melintas di tol Kanci-Pejagan KM 236 yang masuk wilayah Kabupaten Brebes. Kendaraan yang mengalami kecelakaan adalah bus nomor  2.

Dalam kecelakaan ini ada  empat korban  tewas yang semuanya dari kalangan siswa. Yakni, Akhiyat Mufti Syahbana dan Fidya Kastarena, keduanya warga  Desa Tuko dan sama-sama duduk di kelas  VIII B. Kemudian, Desi Rukma Sitasari,  warga  Dusun Semutan, Desa Jetaksari dan Moh Mafthut  Ahnan, warga Dusun Ngampel,  Desa Panunggalan. Kedua siswa ini duduk di kelas  VIII H.

Selain korban  tewas, ada  tiga siswa yang menderita luka berat  dan dirawat  di RS Plumbon, Cirebon. Kemudian, ada  17 siswa,  dua karyawan biro perjalanan dan tiga guru yang dilaporkan mengalami luka ringan akibat  kena serpihan kaca  atau  tertindih  barang saat bus terguling.